Des
6
Ketika Menjadi Tamu Sudah Jadi Kebiasaan
Desember 6, 2010 | Tagged jodoh, nikah, tamu | Leave a Comment
“Hari ini hari ini ada walimahan
Tak lupa bantuan paniatia yang cekatan
Menjadi tamu melulu sangat membosankan..”
Begitulah lirik “Derap Bujangan” yang sering nangkring dalam playlist di kala sedang senggang dan suntuk ketika di kantor. Maklum, liriknya lumayan menyentil kupingku karena statusku yang kupikir sama dengan apa yang dilagukan. Dibilang naas ga, dibilang nggak juga nggak salah. Yah begitulah…
Tapi mungkin di dalam proses tamu-bertamu kali ini agak berbeda. Naasnya sih terasa, namun sedikit memberikan pemahaman yang tidak sama dengan pemahaman sebelumnya.
Toh juga tidak ada yang salah ketika status bujangan masih melekat. Tul nggak?
Dulu, ketika masa-masa terkompori itu masih ada, kupikir pernikahan adalah sebuah balap membalap antar pembalap (halah!). Ketika mendengar undangan si anu dan si itu, jadi kalang kabut.
“Wooooi! Elu kapan coooy!”
Seperti itulah kata-kata yang berdenging di kepala. High octane. Seperti itulah. Tergiang-ngiang di alam kepala.
Kalau di dalam sebuah forum komunikasi komunitas muslim pajak, apa yang saya alami itu disebut; “Terkompori”.
Panas euy…
Tapiii. Yah kadang memang begitu banyak faktor ketika berbicara tentang perkara yang bisa dibilang sederhana, bisa dibilang rumit ini.
Bingung?
Sama.. Bagaimana yah, berhubung memang setatus saat ini hanya bisa berkomentar “katanya”..
Salam “katanya”…
Eniwey. Memang benar, pernikahan bukan masalah perlombaan. Ini sebuah masalah kesiapan dan keikhlasan.
“Payah, udah ga siap, ga ikhlas lagi…”
Sepertinya Tulisan kutipan diatas nggak perlu diperhatikan. Nggak penting deh..
Tapi memang, ketika sudah berjodoh. Sesulit apapun jalannya, pasti akan terjadi dan bersatu. Entah ketabrak becak, kecebur got, ketusuk duri, babak belur dikira copet.. Jika memang sudah jodoh, insyaAlloh bakal bersatu.
Mungkin ada yang mengusahakan pendekatan PDKT ala roman sinetron, ada yang mengusahakan seperti “Hit & Run” yang sekali ketemu langsung nembak; “Would You Marry Me?”, ada pula yang tiba-tiba nongol dan langsung klop. Jika memang sudah jodoh, nggak akan lari becak dikejar mang.
Tapi memang terkadang kecenderungan dan ketertarikan sedikit menutup mata hati. Menutup mata hati untuk kebaikan dan perbaikan.
Padahal, kecenderungan dan ketertarikan saat ini belum tentu sebagai tolok ukur kesuksesan sebuah pernikahan. Butuh berbagai pertimbangan dan pemilihan yang bijak.
Menurut saya lho.
Yah seperti sebuah frase yang terkenal; “Cinta itu harus diusahakan”. Mungkin suatu ketika ada pernah rasa itu hadir tanpa dinyana. Mungkin sebuah perjuangan juga ketika menghadirkan rasa ketika yang dinyana itu sudah hadir. Lha mosok didiemin doang..
Berbicara tentang masalah kesiapan, tidak bisa disamakan satu orang dengan yang lain. Ukuran baju saja bisa beda, apalagi dalam soal masalah sepenting ini. Ada yang diprioritaskan dan ada yang berbeda kondisinya.
Juga masalah keikhlasan. Masalah hati yang susah ditebak. Seperti kata Newton; “I can calculate the movement of the stars, but not the madness of men..”. Yang secara harfiah bisa diartikan sebagai “Dalamnya lautan bisa diukur, namun dalamnya hati siapa yang tahu..”. Tahu saja sulit, apalagi tempe.
Tapi memang butuh suatu persiapan untuk penerimaan demi keikhlasan. Seperti kutipan dari Salim A Fillah yang mengibaratkan biji yang dalam diamnya di bawah tanah yang tersirami air dan menyerap berbagai unsur hara. Ketika ia telah berkecambah, maka ia siap untuk tumbuh dan memberikan keteduhan serta buahnya yang mempesona. Mungkin seperti itulah tolok ukur untuk persiapan hal ini.
Bagaimana tidak. Perjanjian ini adalah salah satu perjanjian yang berat, seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an. Ngeri bacanya. Coba goggling aja tentang “Mitsaqan Ghalidza”, banyak artikel dan referensi yang jauh lebih valid apabila dibandingkan dengan tulisan ini.
Well, jadi kapan yah?
Des
2
Perjalanan ke Lhok Mata Ie
Desember 2, 2010 | | 1 Comment
Well, sebenarnya tulisan ini saya comot dari blog Kompasiana saya. Yang saya pikir lumayan juga kalo ditulis ulang sekali lagi di blog yang baru seumur jagung ini. Itung-itung bikin sebuah reportase perjalanan yang sudah lumayan lama saya tempuh bersama teman-teman.
Saya saat ini tengah merantau di Banda Aceh, sebuah ibukota provinsi yang nyaman untuk ditinggali. Meski minim hiburan yang bersifat pelesiran semacam di kota-kota besar lainnya, namun apabila ditengok kota ini memiliki objek-objek wisata yang eksotis dan asri.
Dalam perjalanan kali ini saya akn menunjukkan sebuah pantai tersembunyi yang jarang dikunjungi oleh para wisatawan. Maklum, medannya cukup sulit untuk ditempuh apabila bersama keluarga. Jadi hanya anak-anak muda yang sering kemari menikmati pemandangan alam dan kesunyian sebuah pantai sepi.
Beginilah gambar peta medan yang saya tempuh pada perjalanan itu. Di sudut kanan bawah adalah kota Banda Aceh, sedangkan TKP berada di ujung kiri atas. Sebuah objek pantai yang tersembunyi.

Lhok Mata Ie namanya.
Dinamakan Lhok Mata Ie karena ada mata air di ujung dari hutan yang kami tempuh yang mengalir menuju lautan. Tempatnya indah dan asri. Sebuah objek pantai wisata yang damai dan tenang.
Lokasi ini berada di ujung kota. melewati daerah yang dahulu luluh lantak dihantam tsunami. Namun saat ini sudah mulai pulih oleh pembangunan. Well, ngomong-ngomong tentang tsunami, ingin tahu berapa ketinggian ombak dikala itu? Mungkin foto ini yang bisa menjawabnya;

Yah, kira-kira setinggi ujung dari prasasti tsunami itu. Saya yang setinggi 1,7 M pasti sudah bablas jika diterjang ombak setinggi itu. Dan sebuah keabaikan kekuasaan Alloh yang membuat kota ini masih kembali berdenyut kembali setelah dihantam bencana sedahsyat itu.
Kembali menuju topik bahasan, insyaAlloh tsunami akan saya tulis pada postingan berikutnya.
Perjalanan kami tempuh dari kota dengan naik sepeda motor. Cukup memakan waktu sekitar 45 menit sebenarnya. Berhubung kami bertiga belum sarapan, yah kami mampir dulu ke warung untuk makan. Dan akhirnya kami tiba agak siangan dikit dari rencana semula.
Jam 9.30 di Banda Aceh termasuk masih pagi, karena subuh di sini sekitar jam 5.30an. Maklum, ujung paling barat Indonesia. Jadi perbedaan waktunya makin lama.
Sisi positif dari rencana yang agak melenceng itu, kami tidak perlu melewati gerombolan sapi yang tengah digembalakan. Fyiuh… Lumayanlah daripada kudu ngantri berbarengan dengan sapi di perjalanan. Cuma banyak sekali “peninggalan” para sapi-sapi itu. Kotoran!
Wo ho ho… Kami ketika itu kudu memainkan setang sepeda motor untuk menghindari kompos-kompos yang tertinggal. Sayang ga ada fotonya…
Nah, setelah dari kota kami tiba di sebuah peternakan untuk menitipkan motor.
Dititipkan?
Yoi, sebab perjalanan setelah ini adalah perjalanan melintasi bukit. Tisak bisa ditempuh memakai motor. Bukit yang sangat-sangat-sangat keren sekali!
Selanjutnya inilah berbagai foto perjalanan yang sempat saya ambil….




Daaan akhirnya kami tiba juga di pantai itu setelah 45 menit perjalanan mendaki bukit…







Des
2
Pertanyaan & Jawaban
Desember 2, 2010 | Tagged jawab, tanya | Leave a Comment
Saya rasa ketika merenung-renungi beberapa kejadian dan beberapa hal. Saya ternyata lebih membutuhkan pertanyaan-pertanyaan daripada jawaban-jawaban. Dan saya pikir, itulah yang lebih saya butuhkan saat ini dibandingkan dengan yang lainnya.
Kenapa?
Well, coba dibaca lebih jelas ketika saya menuliskan kata tanya “kenapa” dalam tulisan di atas. Ada sebuah semangat untuk menemukan hal-hal yang baru ketika saya menuliskan kata tanya “Kenapa” ini. Ada hal-hal yang bisa dieksplorasi lebih dalam di balik kata tanya itu. Banyak hal. Sangat banyak.
Jawaban-jawaban itu lantas akan beragam dengan banyaknya kata tanya tersebut apabila diajukan kepada berbagai macam orang. Berbagai macam hal akan ditemukan dan dapat dipelajari!
Itu baru satu kata tanya. Bayangkan jika puluhan kata tanya diajukan kepada banyak orang. Bayangkan betapa dahsyatnya hal-hal yang baru tersebut.
Itu dia! Saya merasakan ada “jalan” baru ketika banyak bertanya. Banyak hal yang bisa ditemukan dengan sebuah kata tanya. Banyak hal.
Namun, ketika mendapatkan sebuah jawaban, saya malah membayangkan sebaliknya. Jalan untuk mendapatkan hal-hal yang baru tersebut langsung tertutup ketika sebuah jawaban itu didapatkan. Maklum, sebuah jawaban bisa berarti hal-hal yang baru bukan? Jika sudah didapatkan bisa berarti sebuah hal yang lama khan?
Nah lo! Saya bertanya lagi. Dan bisa jadi jawaban-jawaban yang didapat berbeda untuk masing-masing orang. Bisa jadi. Karena setiap orang berbeda dan setiap orang memiliki keistimewaan serta daya pikir juga pendapat yang tak sama.
Itulah dia! Bagaimana kekuatan sebuah pertanyaan yang diajukan.
Sangat luar biasa!
Itu hanya bertanya dengan kata tanya “Kenapa” yang bisa diartikan sebagai kata tanya pasif. Coba bayangkan apabila kata tanya “Kenapa” tersebut diganti dengan kata tanya “Bagaimana” yang saya rasa jauh lebih menarik. Menarik menurut pendapat saya. Karena kata tanya “bagaimana” menuntut sebuah cara untuk mengusahakan sesuatu. Menuntut imajinasi, benak serta tindakan untuk mewujudkan sebuah cara agar pertanyaan tersebut terjawab.
Ternyata setiap kata tanya memiliki kekuatan yang berbeda-beda!
Mungkin bisa dipakai sebagai sebuah pelajaran ketika dalam kondisi yang putus asa, kata tanya “bagaimana” ini diucapkan kepada diri untuk mensugesti agar segera mencari pemecahannya.
Dan ketika mengingat-ingat beberapa kejadian, saya ternyata sering mengucapkan kata tanya “bagaimana” ini ketika dalam kondisi mentok. Alhamdulillah, seringkali berhasil memaksa saya untuk berpikir segera mencari pemecahannya.
Namun terkadang sebuah jawaban juga bisa menjadi harapan tentang pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan terhadap jawaban tersebut. Karena sebuah jawaban meski ia terkesan sebagai pintu terakhir dari sebuah tanya, ia juga bisa berarti bagi kita untuk segera mengajukan pertanyaan yang lain untuk mencari jawaban-jawaban yang hendak dicari.
#ketika sebuah tanya sedang terbang mencari apa jawabnya#
Des
2
Sepi
Desember 2, 2010 | Tagged Sepi, sunyi | Leave a Comment
Seringkali sepi merupakan teman yang akrab dengan diri. Ketika sepi merefleksi segala kata dan tanya yang membuncah di dalam dada. Sepi juga menemani ketika tak ada yang bisa dibagi.
Mungkin karena itulah banyak orang berpetualang di sepinya rimba belantara. Untuk merasai sepi yang susah hadir di hiruk-pikuknya kota.
Sepi terkadang dibenci tapi kadang juga dirindui. Ia dibenci ketika hadir ditengah riuh ramai pesta pora. Atmosfer dingin yang hadir di tengah kehangatan tawa. Ia juga dapat dirindu ketika dada telah penuh dengan berbagai sesak yang mendesak lesak untuk dikosongkan oleh keheningan.
Namun dari sepi, diri terkadang belajar untuk bisa jujur dan tidak menipu. Terutama menipu diri. Bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan tidak mau menghadapi kenyataan yang ada.
Bagaimana diri bisa berbohong jika suara yang terdengar hanyalah suara hati. Karena di sana ada sepi dan di ujung sepi hanyalah ada diri dalam kejujurannya.
Sepi adalah teman yang menyenangkan ketika harus menoleh kembali menatap langkah-langkah yang telah ditempuh. Bertanya dengan mesra; “Benarkah langkahmu ini?”, “Yakin?”
Mengoreksi jika ada langkah yang melenceng.
Dari sepi diri juga akan belajar untuk menghargai makna. Segala makna. Bertanya dengan heningnya tentang berbagai rasa.
Beruntunglah ia yang masih dianugrahkan sepi. Meski ia terdampar di hiruk-pikuk kebingungan, sang sepi masih membersamai. Mencegah setiap diri untuk ikut larut meski ia tercebur.
Namun jangan terlalu larut dengan sepi. Karena percayalah, ia hanyalah sahabat yang hanya hadir di saat dibutuhkan saja. Ia tidak dibutuhkan setiap saat.
Karena realitas dunia nyata adalah tantangan yang harus dihadapi dengan jantan di tengah bisingnya dunia itu…
Nop
25
Sang Dosen
Nopember 25, 2010 | Tagged akrab, Dosen | Leave a Comment

Pada suatu hari, seorang dosen baru masuk ke dalam kelas. Dosen yang belum dikenal oleh para mahasiswanya.
“Sebagai perkenalan..”, sepatah dua patah kata terucap dri mulut sang dosen.“Minggu depan saya akan mengadakan ujian kepada kalian”
Sang dosen mengacungkan sebuah buku. Tidak tebal tapi tidak pula tipis. Sedang-sedang saja.
“Materi yang saya ujikan semuanya dari buku ini”
“Tidak kurang juga tidak lebih”, sambung kata sang dosen. “Semuanya ada di buku ini”
Para jenius tersenyum simpul. Bagi mereka tak sulit untuk menguasai materi dalam seminggu. Apalagi hanya mengutip satu buku. Sementara sang juru kunci dan mahasiswa yang bodoh terlihat mengeluh. Membayangkan betapa beratnya bagaimana memahami materi yang ada di satu buku itu.
Para jenius dengan tekun membaca lembar demi lembar buku yang diberikan oleh sang dosen. Dengan kemampuan memori fotografiknya, mereka menghayati kata demi kata yang tertulis di dalam buku itu. Titik dan koma-pun tak luput dari perhatian mereka. Tapi mereka tidak membaca kata pengantar dan halaman yang paling belakang. “Ah buat apa… yang penting isi dari buku itu…”, begitulah pikirnya.
Sementara mahasiswa-mahasiswa idiot mengeluhkan dan meratapi materi yang diujikan. Mereka hanya membolak-balik buku itu tanpa tahu bagaimana caranya mereka memahami materi yang dituliskan dalam buku itu. Dibolak-balik saja. Akhirnya yang terbaca hanyalah kata sambutan serta halaman belakang buku itu. Isinya? Jangan tanya…
Namun ketika ujian tiba, para jenius terpucat mukanya. Sementara para idiot tersenyum simpul.
Apa pasal? Pertanyaan yang diajukan oleh sang dosen ternyata hanya pokok-pokok yang tertulis di dalam kata pengantar dan halaman belakang buku itu.
Tak kurang dan tak lebih.
Sekedar menanyakan nomor ISBN dari buku itu, siapa pengantar yang memberikan sambutan dalam pendahuluan buku itu serta tak lupa cetakan ke berapa dan tahun terbitnya buku itu.
Bagaimana dengan isi dari buku itu?
Tidak ditanyakan. Satu huruf-pun…
Akhirnya dalam penilaian akhir ujian itu. Para jenius mendapatkan nilai yang biasanya didapatkan oleh para mahasiswa idiot. Dan mahasiswa idiot akhirnya mendapatkan nilai yang biasanya diberikan kepada para jenius.
Namun, tak habis pikir seorang pengamat melihat fenomena yang aneh itu.
Sang dosen belum dikenal oleh para mahasiswanya. Sang dosen adalah orang baru.
Tapi kenapa tak terpikirkan oleh para mahasiswanya untuk mendekat dan mengenal jauh lebih intim dengan sang dosen? Bukannya jika mereka telah kenal akrab bisa jadi sang dosen sedikit memberikan petunjuk tentang ujian yang akan diujikan? Atau bahkan sang dosen dengan sukarela memberikan jawaban atas ujian yang akan diujikan. Karena telah kenal akrab…
Namun tiba-tiba sang pengamat tersadarkan oleh satu hal…
Ternyata ia tidak kenal akrab dengan Tuhannya…
Nop
22
Pelangi Harapan…
Nopember 22, 2010 | Tagged Lomba Blog | 2 Comments
Aku masih ingat ketika aku menatap pelangi di tengah kepulan asap bis kota setelah hujan mengguyur Jakarta. Menatap dengan mata penuh ketakjuban ketika itu. Seolah-olah pelangi itu adalah sebuah tangga yang turun dari surga untuk menjemput roh-roh orang baik menuju ke dalamnya.
Kilau-kilau pelangi itu begitu mempesona hingga aku tak sadar siapa diriku saat itu.
Kawan, jika kau melihatku saat itu. Aku tengah basah kuyup kehujanan. Menggigil kedinginan. Sampai-sampai kecrekan alat ngamenku berbunyi karena gigilanku saat itu.
Ya, anak kecil yang tengah takjub menatap pelangi di tengah kepungan kemacetan Jakarta itu aku. Sang pemimpi kecil.
Tak pernah kutanya mengapa dan kenapa aku begitu berbeda dengan teman-teman sekolahku yang lainnya. Mengapa aku harus mengamen setiap hari sementara teman-temanku sepulang sekolah tinggal menikmati nasi hangat yang tengah mengepul bersama dengan lauknya. Namun aku tak bertanya.
Yang kutahu, dengan kecrekan inilah aku bisa bersekolah.
Jadi janganlah kau tanya apa kenangan masa kecilku yang paling menyenangkan. Yang kuingat bahwa aku harus terus bergerak. Ya! Aku harus terus bergerak menelisip diantara kepulan asap bis kota serta bergerak menghindari trantip yang hendak menggaruk kami, anak jalanan.
Pun ketika berkumpul dengan keluargaku. Jangan harap kau lihat kami kenyang di malam hari sampai perut menggelembung besar. Yang kulihat hanyalah wajah tua bapakku yang tengah kelelahan serta ibu yang kusut oleh banyaknya cucian yang harus ia cuci serta ia setrika.
Namun jangan salah. Sekere-kerenya kami, bapak dan ibu tetap memaksaku untuk sekolah. Entah dengan apapun caranya.
Jadi aku tak marah ketika bapak memukulku dengan rotan karena aku membolos. Aku tak marah. Karena aku tahu betapa besar pengorbanan kedua orang tuaku itu. Aku tahu.
Aku juga tahu betapa sumringahnya senyuman bapak ibu ketika aku mendapatkan rangking pertama. Ya! Aku selalu rangking pertama di seegala keterbatasan ini. Meski aku selalu dicibir ketika di kelas, namun aku tetap menjadi anak yang terpandai.
Meski aku berbeda dengan teman-temanku. Aku yang berseragam lusuh ini tetaplah menjadi yang terpandai di dalam kelas.
Aku juga masih ingat ketika aku mendapatkan beasiswa berprestasi ketika SMA. Ya! Aku mendapatkan beasiswa ketika SMA kawan. Tahukah engkau kawan?
Di saat itu aku hampir putus sekolah.
Biasalah, masalah biaya.
Namun tahukah kau kawan? Aku tak pernah melihat senyuman yang paling bahagia dari kedua orangtuaku hingga saat itu. Ketika segala ikhtiar sudah dilakukan namun tetap saja keadaanku tak berubah hingga menerbitkan rasa putus asa. Datanglah pertolongan itu.
Beasiswa itu bagai pelangi yang kukhayalkan ketika kecil. Beasiswa itu ibarat pelangi sebagai tangga menuju surga yang kuimpikan. Menerbangkanku bersama impianku untuk selalu bersekolah.
Tahukah kau kawan? Kupikir aku tak mempunyai apa-apa dibandingkan impian untuk bersekolah hingga lebih tinggi. Karena pernah ku mendengarkan petuah seorang imam masjid bahwa dengan ilmu engkau akan mendapatkan dunia sekaligus akhirat.
Tahukah engkau kawan?
Pelangi itu bahkan hadir lagi ketika aku lulus SMA.
Ketika itu aku bingung dimana aku harus kuliah. Aku bingung kawan.
Aku tahu aku mampu! Aku tahu kalau aku pandai! Tapi aku juga sadar bahwa kepandaianku tak bisa berbuat apa-apa dihadapan tuntutan biaya. Kepandaianku bertekuk lutut di hadapan materi.
Inilah dendamku kawan. Inilah dendamku kepada benda yang bernama uang dan materi!
Tadi kubilang bukan bahwa ada pelangi lagi yang hadir selepas masa SMA?
Aku masih ingat ketika mendengar ada perguruan tinggi gratis yang selepas kuliahnya si mahasiswa akan diangkat sebagai pegawai. Bukan sembarang pegawai, tapi jadi pegawai negeri! Hebat nian universitas ini. Kupikir itulah satu-satunya pilihan yang dapat kuraih.
Bye-bye UI, ITB dan UGM…
Kupertaruhkan nasibku di sini kawan. Kupertaruhkan segala apa yang kupunya di ujian masuk universitas ini kawan!
Aku belajar mati-matian! Aku kerjakan setiap soal dengen ketelitian yang presisi. Setiap bulatan-bulatan yang kulingkari dengan pinsil ini, kubayangkan sebagai kunci untuk mengubah nasibku saat ini. Sebelumnya kuminta restu dari orang tua. Kukecup tangan ibu dengan khidmad, kupeluk ayah dengan erat. Lantas kupertaruhkan segala nasibku disini…
Dan jadilah aku sebagai penghuni kampus itu…
Tapi persoalan belum selesai kawan! Belum selesai!
Aku bingung..
Aku bingung ketika itu..
Rumahku jauh di utara, sementara kampus ini berada di pinggiran selatan jakarta.
Lantas aku harus tinggal dimana? Makannya bagaimana?
Tahukah engkau kawan? Aku masih ingat dengan wajah-wajah bercahaya itu ketika aku duduk termenung di sebuah masjid kecil. Masjid kecil di dekat lapangan bola itu. Aku masih ingat bagaimana sapaan salam yang terucap.
“Assalaamu’alaikum”, sapa abang yang penuh senyum itu. Wajahnya basah oleh air dan di dahinya nampak samar-samar dua titik abu-abu.
“Wa.. Wa alaikum salam…”, tak biasa kuucapkan salam ketika itu. Aku malu…
“Adik mahasiswa baru kan?”, abang itu duduk di hadapanku, “Kok tengah malam masih duduk di sini?”
Tak kujawab pertanyaan itu. Tak kujawab kawan. Aku tak tahu bagaimana cara menjawabnya. Aku hanya menunduk.
“Dik, adik tidur di belakang saja”, tawaran yang kuharapkan keluar dari bibir abang itu, “Masih ada tempat buat tidur meski agak berdesak-desakan di belakang masjid”
Dan seketika itulah aku menjadi penghuni rumah di belakang masjid itu. RT. Itulah sebutannya. Aku jadi anak RT…
Oh iya, abang itu namanya Sarimin. Mas Sarimin saja namanya. Asalnya dari sebuah kota di Jawa Tengah yang tak tahu dimana tepatnya.
Kukenal juga Zul si anak medan, Cahya yang tetangga kota dengan Zul, Arifin yang merantau dari Bengkulu, Ayat yang dari Palembang, Sus yang dari Wonogiri.
Kukenal Indonesia dari sudut RT itu…
Namun ada satu kesamaan diantara mereka. Mereka anak yang rajin ibadah. Berbeda denganku.
Aku masih ingat di sela-sela ngampusku, aku ikut membantu kelancaran aktifitas masjid. Padahal, dulu aku jarang sekali masuk masjid. Sholat hanya ketika ingat saja. Bagiku hari-hari yang lalu adalah sebuah perjuangan untuk survive di kerasnya hidup di kota.
Namun, aku malu dengan kehidupan teman-teman Indonesiaku itu. Malu dengan segala kerajinan dan ketaatan mereka.
Mulailah aku belajar ngaji. Terpatah-patah mengeja alif-ba-ta dan menghafalkan beberapa surat pendek. Aku juga mulai rajin sholat jamaah. Sungguh kontras dengan hidupku yang dulu kawan. Keluarga di rumah sampai kaget ketika sesekali aku pulang. “Kamu makin alim saja”, itu kata mereka.
Aku hanya tersenyum. Tersenyum saja. Tak kurang, lebih mungkin…
Aku masih ingat…
Hei!! Siapa orang perlente di balik cermin itu? Rapi dan necis setelan bajunya. Dari ujung ke ujung kelihatan betapa kelasnya berbeda denganku.
Tapi kok ketika aku menggerakkan tangan kananku, bayangan yang terpantul di cermin itu mengikuti gerakanku.Kuangkat tangan kanan, bayangan cermin itu mengangkat tangan kiri.
Kusisir rambutku dengan tangan, bayangan itu juga menyisirnya dengan tangan…
Hei!! Ternyata itu aku kawan!! Bayangan yang terpantul itu aku kawan!! Rapi dan dengan dandanan yang dandy tak lupa kucium bau semerbak harum parfum yang kukenakan. Setelan yang kukenakan ternyata bermerek. Merek-merek yang kulihat di Plaza Senayan dulu ternyata hari ini kupakai!!
Uuups… Tiba-tiba ada wanita cantik dengan pakaian seronok memasuki ruangan dan menghampiriku. Masya Alloh bau parfumnya. Dan dandanannya…
Kawan, aku lelaki normal. Siapa yang tidak berdesir dadanya ketika disuguhi pemandangan seperti ini. Spontan ku menunduk panik. Aku paniiiik kawan!!
Bayangan ketika Nabi Yusuf yang digoda Zulaikha terbayang di benakku. Ya Alloh maha dahsyat nian cobaan yang Engkau berikan kepada nabiMu…
Dan sekarang Engkau berikan cobaan ini kepadaku…
Wanita itu memegang dasiku. Merapikannya dengan mesra. Sementara aku kaget menepis tangannya. Kudorong wanita itu.
“Mas ini kenapa sih!”, bentak wanita itu. “Mau dirapiin dasinya kok nggak mau”
“Jadi berangkat ke pesta tidak?”
“Hah, pesta?”
“Pesta apa?” tanyaku.
“Mas ini dari dulu kok pelupa”, kata wanita itu sambil berkaca di cermin yang tadi kupakai. “Tadi mas bilang kita diundang klien mas khan?”
Hah? Klien apaan?
Pusing aku kawan, kupandangi ruangan yang besar ini. Kulihat segala perabotan mewah yang tadi tak kusadari keberadaannya. Lemari yang besar mewah itu. Cermin yang ternyata sangat cantik sekali ornamen-ornamen di sekelilingnya. Tak lupa ranjang yang besar mewah yang kelihatan empuk menggoda. Dan sebuah foto tengah ruangan mengejutkanku.
Foto aku dan wanita itu dengan mesra.
Mesra?
Iya, fotoku dengan wanita itu dengan balutan baju pengantin.
Hah? Wanita seronok ini istriku? Kok aku tidak ingat kawan?
Istriku seharusnya berjilbab besar, dengan pandangan yang khusyuk dan teduh. Tapi perempuan ini?
Ia mengenakan baju pesta berlekuk kontur tubuhnya yang dulu kulihat di film-film yang populer menghiasi layar kaca. Dengan rambut yang dicat kemerah-merahan berpendar kilau diterpa lampu kamar yang temaram. Bergincu merah menyala menggoda dan masya Alloh… Itu kosmetik atau dempul kayu?
Aku ditarik paksa oleh wanita itu. Eh, istri.. Istriku..
Melewati sebuah ruangan yang sangat buesaaaar. Jauh lebih besar dibandingkan dengan masjid yang biasa kutinggali dulu. Tangganya melingkar mewah dengan ornamen-ornamen yang rumit. Dialasi karpet merah yang empuk. Ini rumah atau istana pikirku.
Masuk ke dalam mobil yang mewah. Kulihat merek yang ada di depan kap mobil sekilas tadi sebelum masuk ke dalamnya. Mirip huruf L. Yang setahuku, mobil yang berlambang itu dikenal dengan nama “Lexus”.
Aku punya “Lexus”? Kok aku nggak ingat kapan belinya yah? Harganya khan 500an juta setahuku…
Lamunanku buyar. Aku sudah sampai di tempat pesta.
Ya Alloh… Mewah sekali tempat pesta ini…
Kulirik karangan-karangan bunga yang terpampang didepan gedung. Penuh dengan nama-nama yang sangat familiar di penjuru negeri. Dari kalangan pejabat maupun para pengusaha. Tak lupa orang-orang yang hanya kukenal nama keluarganya saja. Keluarga besar yang terkenal sangat kaya-raya.
Aku masuk disambut dengan berbagai orang yang tak kukenal. Dengan setelan yang necis senecis pakaian yang kukenakan. Dengan senyuman lebar dan bersahabat. Tapi tidak hangat.
Mereka berbicara dengan istilah-istilah yang tidak kukenal. Tapi yang pasti ada satu kalimat yang sering diucapkan; “Itu bisa diatur”.
Sementara kulihat wanita itu -istriku- sedang tertawa lepas bersama ibu-ibu yang menor dan “wah”. Dari telinga ibu-ibu itu sampai leher dan kedua tangannya berkilau berlian yang berwarna-warni. Kok kupikir ibu-ibu itu jadi terlihat seperti badut. Apa tidak berat memakai gelang sebanyak itu? Berapa kilo yah total logam-logam mulia yang mereka kenakan?
Tiba-tiba salah seorang tokoh kaliber nasional menjabat tanganku. Bertanya kabar ini dan kabar itu. Basa-basi pikirku.
“Sudah dibereskan bukan masalah kemarin?” tanya orang itu, “Saya sudah transfer ke rekening anda sesuai nominal yang anda minta”
Heh? Nominal apa?
“Saya harap segera dicairkan perkara yang saya minta”, perintah ia sambil mengeloyor pergi menjauh dariku.
Aku pusing kawan. Aku pusing.
Seingatku ketika kuliah, aku diberikan mata kuliah etika profesi. Ketika aku berprofesi sebagai seorang tenaga keuangan di lingkungan pegawai negeri, aku harus menghindari kepentingan-kepentingan pihak yang bersangkutan.
Aku masih ingat diberikan mata kuliah anti korupsi. Aku sangaaat ingat sekali dengan mata kuliah itu.
Aku juga masih ingat dengan kajian-kajian keislaman yang kuikuti. Tentang harta dunia, tentang memilih pasangan hidup, etika bergaul dengan sesama. Tapi kenapa berbeda dengan sekarang?
Siapa aku ini? Siapa aku ini?
Aku pusing dan tiba-tiba pandanganku gelap. Seperti ketika ada pemadaman listrik melanda kota. Gelap.
“Hei! Hei! Bangun saudara! Anda sedang berada di pengadilan! Bukan tempat tidur!”, bentak seseorang marah. “Sipir! Bangunkan ia!”
Hah? Dimana aku?
Siapa orang-orang tua yang berwajah kusut di depanku ini? Apa pula kok aku duduk sendirian di tengah-tengah ruangan. Kutengok belakang banyak orang yang berwajah geram. Tak lupa membawa spanduk berisi kecaman dengan namaku terpampang.
Kok namaku disandingin ama gambar tikus?
Kulihat Mas Sarimin dengan wajah yang sangat menyeramkan. Belum pernah kulihat wajah itu di kesehariannya yang ramah dan murah senyum. Kulihat pula teman-teman Indonesiaku yang memincingkan mata sinis melihatku.
Ada apa ini?!?!?Aku panik! Aku mencoba berdiri! Berat rasanya.
“Hei! Saudara jangan kurang ajar yah di pengadilan!”, bentak bapak keriput itu marah. “Saudara didakwa dengan tuduhan korupsi sebesar 100 Milyar!!!”
Korupsi?!?!
Kok korupsi?!?!? Emang kapan aku korupsi?!?!?
Kok aneh kawan? Ceritaku seharusnya nggak begini. Aku itu pegawai yang jujur dan bersih. Bukan pegawai korup. Kok aneh tuduhannya.
Aku panik kawan! Tolonglah aku kawan! Aku panik!
Tiba-tiba kulihat tokoh nasional yang dulu bersalaman denganku. Matanya tajam seperti elang yang mengincar mangsanya. Kulihat barisan aparat berdiri di belakangnya. Dingin.
Tokoh itu menggerakkan bibirnya. Seakan-akan berkata kepadaku. Dan hei! Dia memang berkata kepadaku!
Kubaca gerak bibirnya; “Diam atau kami yang akan mendiamkanmu”
Aku panik!! Aku panik kawan!! Tolong aku kawan!! Tolong aku!!
Kutunjuk-tunjuk tokoh nasional itu. Ku hendak berteriak. Tapi???!!! bibirku tak bisa terbuka. Bibirku seperti di lem dengan sangat rapat.
Engkau khan tahu siapa aku kawan! Bantu bela aku kawan! Bukan aku yang bersalah! Tokoh licik itu dalangnya!Tolong aku kawan!!
Tolong aku!!
“Istighfar Nto!! Istighfar Nto!!”
“Istighfar Nto!! Istighfar Nto!!”
Kulihat kawan-kawan Indonesiaku mengelilingiku sambil mengguncang-guncangkan aku.Aku terbangun! Terengah-engah! Kulihat sekelilingku. Masih di RT. Kulihat lemari reyot di sudut kanan kiri. Kulihat kasur lapuk yang kutiduri. Kulihat buku-buku yang berserakan bekas dibaca dan digeletakkan seenak saja. Kulihat kipas angin yang berderit-derit ketika memutar ke kanan dan ke kekiri.
Sementara sayup-sayup kudengar berita di radio yang masih menyala; “Terdakwa Gayus Tambunan saat ini sedang menjalani pemeriksaan guna mengorek keterangan keterlibatan seorang tokoh nasional…”
“Diikutsertakan dalam Sayembara Melukis Pelangi dengan Kata,http://www.akusukamenulis.wordpress.com/
Nop
22
Copy-Paste
Nopember 22, 2010 | Tagged Copyleft, Karya seni, Tulisan | 2 Comments
Kegiatan menulis membuat saya menyadari satu hal; “Tentang menghargai sebuah karya tulisan”
Well, karena begitu banyaknya arus informasi yang tersedia dan faktor kebiasaan yang belum membudidaya di era informasi seperti ini. Bergaul di dunia maya memang berbeda rasanya ketika bergaul di dunia nyata. Tapi setidaknya ada prinsip-prinsip yang sama di antara keduanya.
Salah satu prinsipnya adalah Bagaimana Menghargai Sebuah Karya.
Begitu banyak tulisan yang ada di dalam berbagai media, terkadang ada satu hal yang membuat saya miris. Karena ketika saya mencari tulisan dengan judul yang sama, banyak tautan yang muncul di halaman Google dengan judul dan tulisan yang sama.
Misalnya sebuah tulisan saya yang ada di Kompasiana ini. Ketika saya goggling dengan kata-kata yang sama persis, seringkali muncul tulisan Copas yang persis sama namun tidak mencantumkan sumbernya darimana.
Well, bagi saya tidak begitu masalah di awalnya. Namun ketika saya renungi lebih dalam. Proses untuk membuat tulisan itu terkadang tak serta-merta mudah. Terkadang ada tulisan-tulisan yang muncul dari berbagai pengalaman dan pelajaran hidup.
Proses itulah yang seharusnya dihargai oleh setiap orang.
Setidaknya meskipun tanpa ijin dari yang bersangkutan untuk mengcopy karyanya, tolonglah di tautan yang dibuat cantumkan darimana sumbernya..
Nop
21
Titik-titik Hujan
Nopember 21, 2010 | Tagged Hujan | Leave a Comment
Ketika hari hujan (seperti waktu tulisan ini dibuat) saya sering menertawakan diri ketika mengeluh; “Yaaah hujan lagi”…
Seolah-olah hujan itu sesuatu yang menjadi beban dan bencana serta merupakan aral yang ada.
Padahal masih hujan ini berupa titik-titik air.
Belum hujan pasir dan hujan abu yang saat ini tengah melanda di Jogyakarta dan sekitarnya. Semoga saudara-saudara di sana diberikan kesehatan dan keselamatan.
Pun hujan ini bukan hujan air mata. Yang mungkin secara kasat mata tengah terjadi di negeri tercinta dengan berbagai bencana yang melanda. Namun hujan air mata ini tak bisa diartikan secara harfiah.
Hujan ini juga bukan hujan batu. Sebagaimana kaum-kaum terdahulu tengah diadzab oleh Alloh Yang Perkasa. Semoga adzab ini tak menimpa kita.
Jikalau diri berpikir positif yang terlalu melambung mimpi semisal; “coba hujan ini jadi hujan uang”.
Apakah hal ini merupakan rahmat atau berkah?
Saya membayangkan jika hujan yang ada adalah hujan uang. Hujan pecahan ribuan duet Proklamator tercinta. Efek yang ada mungkin terjadi satu hari dua hari setelah hujan melanda. Misalnya melanda seluruh Indonesia.
Sehari sebelum hujan uang duet Proklamator Kemerdekaan Indonesia, ketika makan di warung makan tempat biasa mangkal, pertanyaan ini; “Berapa duit mak menu segini?”. Dijawab dengan jawaban;“Cukup sepuluh ribu saja nak”.
Murah meriah dan kenyang meski yang masakin bukan istri…
Istrinya bapak maksudnya…
Sehari setelah hujan uang melanda Indonesia, pertanyaan; “Berapa duit mak menu segini?”. Dijawab;“Sekarang harganya naik jadi lima juta nak”.
Nah Lo!!! Padahal dengan menu yang sama, rasa yang nyaris tak jauh berbeda dengan kemarin dan dimasakin oleh orang yang sama.
Jadi ingat Uganda. Buat beli sepiring makanan butuh duit seplastik gede. Belum lagi bawa uang kembalian yang mungkin seplastik juga. Berat lagi. Pas sampai rumah bakal laper lagi.
Itu misalnya cuma hujan uang kertas duet proklamator tercinta.
Semisal diganti dengan hujan uang koin yang saat ini pecahan tertinggi senilai seribu rupiah. Mungkin efeknya tidak seperti efek inflasi ketika hujan uang pecahan duet Proklamator tercinta.
Mungkin seorang suami riang gembira pulang ke rumah sambil berkata kepada istrinya; “Caaaan, aye bawa pulang sepuluh kilo uang gocapan nih”. *gocap itu seribu*. “Total ada lima juta Can”.
“Oooh gitu yah. Aye kebetulan nih bang, aye lagi butuh duit tujuh juta”, jawab Sang Istri.
“Lah buat apa Neng?”, tanya suami yang bingung.
“Buat nambal genteng rumah yang pecah-pecah akibat hujan duit”, jawab Sang Istri dengan wajah innocent seolah-olah tanpa dosa mirip dengan pandangan Si Puss In The Boot dalam pilem Shrek II.
Itu dialog buat suami istri.
Para pemilik mobil juga pasti bingung gimana ngasuransiin kaca mobil yang pecah akibat hujan duit receh. Pasti ada lonjakan harga tinggi kaca mobil akibat kejadian ini.
Belum lagi yang cuman naek sepeda motor. Badan pasti pada memar-memar akibat kejatuhan duit. Kalo dijatuhin duit dari ketinggian 2 meter ga bakalan sakit sih. Coba aja.
Tapi yang namanya hujan khan dari RIBUAN meter di atas permukaan laut.
Jiaah…
Imajinasi yang berlebihan…
Tapi setidaknya, ada sebuah hikmah dari hujan yang saat ini masih berupa hujan rintik-rintik.
Mungkin nun jauh di pelosok sana ada Pak Tani yang bergembira dengan kehadiran titik-titik air kehidupan yang menghidupkan tanah persawahannya.
Mungkin juga Pak Tani itu calon mertua saya…
Jadi ada alasan untuk bersyukur dengan kehadiran hujan saat ini. Setidaknya ada sebuah hal yang membuat diri merasa senang karena ada sosok-sosok yang bergembira dengan kehadiran hujan tersebut.
Bukankah kebahagiaan seorang muslim salah satunya adalah ketika melihat saudaranya merasa bahagia?
Mengajarkan juga bagaimana untuk selalu berpikir positif terhadap setiap hal yang terjadi. Semoga ada keberkahan yang diberikan Alloh dalam setiap hujan yang diturukan dari langit.
Entah yang saat ini merupakan hujan abu yang semoga dalam beberapa waktu ke depan memberikan nutrisi kesuburan bagi tanah yang tengan gersang oleh unsur hara. Entah yang saat ini masih berupa hujan rintik-rintik yang memberikan kesyukuran kepada para petani yang tengah merindukan air yang menyegarkan bumi.
Semoga keberkahan senantiasa hadir di setiap karunia yang diberikan Alloh…
Nop
21
Kenapa Musti Menulis?
Nopember 21, 2010 | Tagged blogging, Karya seni, Tulisan | 2 Comments
Well, kenapa musti menulis?
Dulu saya sering bertanya-tanya tentang kegiatan ini. Menulis..
Like hell!! Begitulah pendapat saya ketika semasa SMA. Lakukan apa saja, asal jangan suruh saya untuk menulis. Menuliskan tentang apa yang ada di benak. Tentang apa mau saya. Tentang siapa diri saya.
Bagi saya menulis hanyalah sebuah bentuk dari teori yang diteorikan kembali. Tanpa praktek nyata dan hanya sekedar bercerita. Meski jujur, saya menyukai banyak cerita ketika SMA. Dari sastra sampai berupa komik dewasa dan komik yang kekanak-kanakan.
Tapi please, jangan suruh saya menulis.
Jujur saja, mungkin saya berbakat menjadi dokter. Meski sebatas berbakat meniru bakat tulisan tangan seorang dokter yang terkenal sebagai sandi-sandi misterius ketika itu. Jangan protes, tapi inilah realita ketika itu. Butuh IQ yang cukup untuk membaca berbagai resep obat yang harus ditebus dirumah sakit yang dituliskan oleh dokter.
Klop-lah berbagai alasan saya untuk tidak menulis.
Membaca tulisan tangan saya sendiripun saya merasa putus asa. Saya bahkan sampai tidak tahu apa yang saya tuliskan. Bagaimana ketika saya hendak membagi tentang saya?
Apalagi pelajaran bahasa ketika itu yang hanya sangat mendorong bocah-bocah ingusan seperti saya untuk sekedar berteori doang. Teori dan hapalan jago. Bagaimana memasang imbuhan ini memakai imbuhan itu, sifat kata kerja dan kata benda dan berbagai penggunaan bentuk kata lainnya.
Okey. Saya jago dalam menghapal, saya tahu bagaimana arti imbuhan ini imbuhan itu, saya tahu bagaimana kalimat aktif dan kalimat pasif, saya tahu konotasi dan denotasi. TAPI SAYA TIDAK TAHU BAGAIMANA CARA MEMAKAINYA…
Ibarat serdadu, saya dibekali dengan berbagai macam senjata canggih berikut buku panduannya namun ketika perang tiba, saya tidak tahu bagaimana cara memakainya. Serdadu bullshit…
Namun tibalah ketika saya mampu untuk memikirkan banyak hal dari segala apa yang saya baca, saya lihat, saya dengar dan saya pikirkan. begitu banyak impuls yang meledak-ledak di dalam kepala yang sangat menarik untuk didiskusikan dan dipraktekkan.
Ketika mahasiswa, impuls ini mendapatkan salurannya dengan berdiskusi bersama sahabat-sahabat kampus. Idealisme ini bisa dipraktekkan. Ada banyak pihak yang memiliki berbagai macam pemikiran yang mampu untuk dibagi ketika ngobrol atau ketika berada di dalam kepanitiaan.
Namun berbeda ketika masa kampus usai. Impuls ini tidak mampu tersalurkan kepada rekan-rekan kantor. Yang ternyata lebih heterogen dibandingkan ketika saya berada di dunia kampus. Impuls ini mampet di satu ruang batok kepala yang menekan pemikiran saya. Tak mampu dibagi dan dipraktekkan karena kendala penguasaan komunikasi saya yang pas-pasan.
Akhirnya teknologi menolong saya dalam menghadapi kenyataan pahit bentuk tulisan tangan saya. Teknologi menyelamatkan saya dari siksaan melihat tulisan tangan saya. Dan tulisan-tulisan saya mengalir bagaikan air bah yang tak mampu dibendung oleh tanggul.
Begitu banyak yang saya rasakan dan saya pelajari ternyata dan bagitu banyak yang belum saya praktekkan namun terlupakan karena saya tidak membuat dokumentasi apa yang saya pelajari dan apa yang saya dapatkan di dalam kehidupan sehari-hari.
Begitulah, ikatlah ilmu dengan menuliskannya, pepatah orang bijak berkata.
Well, ketika saya menulis bukan berarti saya ingin dianggap hebat, ingin dianggap pandai. Bukan… Bukan itu…
Seperti pepatah para petualang di alam rimba ketika bercanda kepada alam. Alam bukan untuk ditaklukkan, tapi alam untuk dibersamai. begitulah tulisan-tulisan ini, bukan untuk menunjukkan siapa yang hebat, siapa yang lebih superior. It’s not about winning or losing, it’s about achieve something…
Begitulah… Hanya sekedar ingin berbagi…
Itu saja…









