• 6

    Dec

    Ketika Menjadi Tamu Sudah Jadi Kebiasaan

    “Hari ini hari ini ada walimahan Tak lupa bantuan paniatia yang cekatan Menjadi tamu melulu sangat membosankan..” Begitulah lirik “Derap Bujangan” yang sering nangkring dalam playlist di kala sedang senggang dan suntuk ketika di kantor. Maklum, liriknya lumayan menyentil kupingku karena statusku yang kupikir sama dengan apa yang dilagukan. Dibilang naas ga, dibilang nggak juga nggak salah. Yah begitulah… Tapi mungkin di dalam proses tamu-bertamu kali ini agak berbeda. Naasnya sih terasa, namun sedikit memberikan pemahaman yang tidak sama dengan pemahaman sebelumnya. Toh juga tidak ada yang salah ketika status bujangan masih melekat. Tul nggak? Dulu, ketika masa-masa terkompori itu masih ada, kupikir pernikahan adalah sebuah balap membalap antar pembalap (hal
  • 2

    Dec

    Perjalanan ke Lhok Mata Ie

    Well, sebenarnya tulisan ini saya comot dari blog Kompasiana saya. Yang saya pikir lumayan juga kalo ditulis ulang sekali lagi di blog yang baru seumur jagung ini. Itung-itung bikin sebuah reportase perjalanan yang sudah lumayan lama saya tempuh bersama teman-teman. Saya saat ini tengah merantau di Banda Aceh, sebuah ibukota provinsi yang nyaman untuk ditinggali. Meski minim hiburan yang bersifat pelesiran semacam di kota-kota besar lainnya, namun apabila ditengok kota ini memiliki objek-objek wisata yang eksotis dan asri. Dalam perjalanan kali ini saya akn menunjukkan sebuah pantai tersembunyi yang jarang dikunjungi oleh para wisatawan. Maklum, medannya cukup sulit untuk ditempuh apabila bersama
  • 2

    Dec

    Pertanyaan & Jawaban

    Saya rasa ketika merenung-renungi beberapa kejadian dan beberapa hal. Saya ternyata lebih membutuhkan pertanyaan-pertanyaan daripada jawaban-jawaban. Dan saya pikir, itulah yang lebih saya butuhkan saat ini dibandingkan dengan yang lainnya. Kenapa? Well, coba dibaca lebih jelas ketika saya menuliskan kata tanya “kenapa” dalam tulisan di atas. Ada sebuah semangat untuk menemukan hal-hal yang baru ketika saya menuliskan kata tanya “Kenapa” ini. Ada hal-hal yang bisa dieksplorasi lebih dalam di balik kata tanya itu. Banyak hal. Sangat banyak. Jawaban-jawaban itu lantas akan beragam dengan banyaknya kata tanya tersebut apabila diajukan kepada berbagai macam orang. Berbagai macam hal akan ditemukan dan dapat dipelajari! Itu baru satu kata tanya. Bayangkan jika
  • 2

    Dec

    Sepi

    Seringkali sepi merupakan teman yang akrab dengan diri. Ketika sepi merefleksi segala kata dan tanya yang membuncah di dalam dada. Sepi juga menemani ketika tak ada yang bisa dibagi. Mungkin karena itulah banyak orang berpetualang di sepinya rimba belantara. Untuk merasai sepi yang susah hadir di hiruk-pikuknya kota. Sepi terkadang dibenci tapi kadang juga dirindui. Ia dibenci ketika hadir ditengah riuh ramai pesta pora. Atmosfer dingin yang hadir di tengah kehangatan tawa. Ia juga dapat dirindu ketika dada telah penuh dengan berbagai sesak yang mendesak lesak untuk dikosongkan oleh keheningan. Namun dari sepi, diri terkadang belajar untuk bisa jujur dan tidak menipu. Terutama menipu diri. Bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan tidak mau menghadapi kenyataan yang ada. Bagaima
  • 25

    Nov

    Sang Dosen

    Pada suatu hari, seorang dosen baru masuk ke dalam kelas. Dosen yang belum dikenal oleh para mahasiswanya. “Sebagai perkenalan..”, sepatah dua patah kata terucap dri mulut sang dosen.“Minggu depan saya akan mengadakan ujian kepada kalian” Sang dosen mengacungkan sebuah buku. Tidak tebal tapi tidak pula tipis. Sedang-sedang saja. “Materi yang saya ujikan semuanya dari buku ini” “Tidak kurang juga tidak lebih”, sambung kata sang dosen.“Semuanya ada di buku ini” Para jenius tersenyum simpul. Bagi mereka tak sulit untuk menguasai materi dalam seminggu. Apalag...
  • 22

    Nov

    Pelangi Harapan...

    Aku masih ingat ketika aku menatap pelangi di tengah kepulan asap bis kota setelah hujan mengguyur Jakarta. Menatap dengan mata penuh ketakjuban ketika itu. Seolah-olah pelangi itu adalah sebuah tangga yang turun dari surga untuk menjemput roh-roh orang baik menuju ke dalamnya. Kilau-kilau pelangi itu begitu mempesona hingga aku tak sadar siapa diriku saat itu. Kawan, jika kau melihatku saat itu. Aku tengah basah kuyup kehujanan. Menggigil kedinginan. Sampai-sampai kecrekan alat ngamenku berbunyi karena gigilanku saat itu. Ya, anak kecil yang tengah takjub menatap pelangi di tengah kepungan kemacetan Jakarta itu aku. Sang pemimpi kecil. Tak pernah kutanya mengapa dan kenapa aku begitu berbeda dengan teman-teman sekolahku yang lainnya. Mengapa aku harus mengamen setiap hari sementara teman
  • 22

    Nov

    Copy-Paste

    Kegiatan menulis membuat saya menyadari satu hal; “Tentang menghargai sebuah karya tulisan” Well, karena begitu banyaknya arus informasi yang tersedia dan faktor kebiasaan yang belum membudidaya di era informasi seperti ini. Bergaul di dunia maya memang berbeda rasanya ketika bergaul di dunia nyata. Tapi setidaknya ada prinsip-prinsip yang sama di antara keduanya. Salah satu prinsipnya adalah Bagaimana Menghargai Sebuah Karya. Begitu banyak tulisan yang ada di dalam berbagai media, terkadang ada satu hal yang membuat saya miris. Karena ketika saya mencari tulisan dengan judul yang sama, banyak tautan yang muncul di halaman Google dengan judul dan tulisan yang sama. Misalnya sebuah
  • 21

    Nov

    Titik-titik Hujan

    Ketika hari hujan (seperti waktu tulisan ini dibuat) saya sering menertawakan diri ketika mengeluh; “Yaaah hujan lagi”… Seolah-olah hujan itu sesuatu yang menjadi beban dan bencana serta merupakan aral yang ada. Padahal masih hujan ini berupa titik-titik air. Belum hujan pasir dan hujan abu yang saat ini tengah melanda di Jogyakarta dan sekitarnya. Semoga saudara-saudara di sana diberikan kesehatan dan keselamatan. Pun hujan ini bukan hujan air mata. Yang mungkin secara kasat mata tengah terjadi di negeri tercinta dengan berbagai bencana yang melanda. Namun hujan air mata ini tak bisa diartikan secara harfiah. Hujan ini juga bukan hujan batu. Sebagaimana kaum-kaum terdahulu tengah diadzab oleh Alloh Yang Perkasa. Semoga adzab ini tak menimpa kita. Jikalau diri berpikir p
  • 21

    Nov

    Kenapa Musti Menulis?

    Well, kenapa musti menulis? Dulu saya sering bertanya-tanya tentang kegiatan ini. Menulis.. Like hell!! Begitulah pendapat saya ketika semasa SMA. Lakukan apa saja, asal jangan suruh saya untuk menulis. Menuliskan tentang apa yang ada di benak. Tentang apa mau saya. Tentang siapa diri saya. Bagi saya menulis hanyalah sebuah bentuk dari teori yang diteorikan kembali. Tanpa praktek nyata dan hanya sekedar bercerita. Meski jujur, saya menyukai banyak cerita ketika SMA. Dari sastra sampai berupa komik dewasa dan komik yang kekanak-kanakan. Tapi please, jangan suruh saya menulis. Jujur saja, mungkin saya berbakat menjadi dokter. Meski sebatas berbakat meniru bakat tulisan tangan seorang dokter yang terkenal sebagai sandi-sandi misterius ketika itu. Jangan protes, tapi inilah realita ketika itu
-

Author

Follow Me

Search

Recent Post